Accidental Hero In Lab
Suatu hari apda saat aku masih duduk manis di kelas 8, aku dan teman-teman sekelasku mengadakan penelitian di lab fisika dengan beberapa alat dari lab kimia. Aku lupa apa yang saat itu kami teliti, namun ada satu kejadian yang berkesan di hati namun memakan korban.
Begini kejadiannya…
Pada suatu waktu saat penelitian kelompokku sudah selesai, aku sedang berjalan dengan riang dan penuh kewaspadaan. Pada saat aku melintasi dan melihat-lihat pekerjaan kelompok lain, aku melihat sesuatu yang transparan dan mengkilap sedang menggelinding dari meja menuju ke lantai. Tak menginginkan benda berkilau dan sangat berharga itu pecah menjadi kepingan-kepingan kecil, aku dengan sigap menangkapnya ketika ia sedang melayang ke bawah dengan cepat. Dan ketika kubersentuhan dengannya, aku merasa tanganku seperti terbakar; terbakar dengan suhu yang hampir menyamai titik didih air. Tanpa menginginkan berhubungan dengannya lagi, aku sedikit melontarkannya kembali lagi ke atas meja. Benda itu adalah sebuah tabung reaksi yang baru beberapa detik dipanaskan.
Untungnya tanganku tidak melepuh, jika tidak, aku akan memarahi temanku yang kurang waspada.
Mwahahahahahahahahaha!!
Accidental Hero bukan?? Kalo aku tidak cepat-cepat turun tangan, mungkin tamanku sudah harus mengganti tabung reaksi itu. Wehehehehehehehe…
Important or Unimportant, U Decide!
Wehem.. Wehem..!
Mari saya perkenalkan diri saya…
Nama saya Tjong (baca: Cong) David Sugianto. Rumahku di Semarang, tapi alamatnya rahasia! Wkwkwkwkwkwk. Tapi kalo ada yang pingin cari-cari juga ga papa kok. Hehe.. Aku hanyalah seorang murid SMA yang mengenakan kaca mata berbingkai hitam dan berlensa transparan (ya iyalah!) dengan ukuran tubuh besar namun memiliki tinggi yang tidak sesuai dengan berat badanku. Sekolahku berada di Semarang Indah dengan nama “Tri Tunggal”.
Oke, let’s cut to the point!
Hari di mana aku membuat artikel ini merupakan suatu hari yang cukup hebat bin ajaib binti sakti binti aneh bintik super. Hari ini seharusnya aku tidak menghadiri club computer, karena sebenarnya aku tidak menulis klub ini di lembar pendaftaran klub dan ekstrakurikulaire. Kupikir aku sudah langsung diterima di klub-klub dan ekstra-ekstra yang sudah kuikuti tahun lalu tanpa perlu audisi dulu, namun ternyata tidak! Untuk klub yang satu ini, aku harus menembus sesi audisi dulu, padahal pada saat audisi aku tidak datang karena satu circumstance yang suangat penting bagi kelangsungan hidupku. Jika aku tidak menghadirinya, niscaya, aku akan dibentak-bentak dan dimarah-marahi oleh si Octa—kakak kelasku yang menjadi komandan PBB. So, aku secara sadar tidak menghadiri audisi tersebut. Namun Ms. Anas masih menerimaku di “hadirat”nya yang cukup keramat. Hehe.. (P.S: Jangan ke GR an lho Ms!)
Keren tidak ceritaku?? Hehehehe… Inipun masih artikel pertama! Wkwkwkwkwkwkwk… Dah, dah.. Kempesin kepala…